xyz

Selasa, Desember 08, 2009

Calender of Cultural Event Solo 2010

Dalam upaya meningkatkan kedatangan wisatawan ke Kota Solo, telah ditetapkan sebanyak 35 Agenda budaya yang akan di gelar sepanjang tahun 2010. Agenda tersebut telah dirangkai menjadi Calender of Culture Event 2010.


4 Januari
Wilujengan Boyong Kedhaton / Peringatan Adeging Nagari Surakarta Hadiningrat
Lokasi : Keraton Kasunanan Surakarta

Peringatan berdirinya negara Surakarta. Tahun ini Nagari Surakarta genap berusia 265 tahun, dihitung sejak berdirinya pada tahun 1745. Acara diantaranya pembacaan riwayat singkat kepindahan Keraton dari Kartasura ke Desa Sala dalam tempat Macapat diikuti kenduri.


14 Februari
Grebeg Sudiro
Lokasi : Pasar Gede

Acara yang digelar untuk memeriahkan Tahun Baru Imlek. Gunungan dari ribuan kue keranjang dikirabkan di sekitar pasar gede. Puluhan peserta berbusana tradisional jawa dan Tionghoa mengiringi dengan membawa lampion. Acara dimeriahkan penampilan liong, barongsai dan kesenian lainnya.


17 Februari
Solo Karnaval
Lokasi : Jalan Slamet Riyadi

Karnaval Budaya dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-265 Kota Solo yang dikenal sebagai Boyong kedhaton


21-26 Februari
Sekaten
Lokasi : Alun-alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta

Kata Sekaten berasal dari istilah agama islam, Syahadatain atau dua kalimat syahadat. Ritual untuk memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW ini dimeriahkan berbagai pertunjukan dan pasar rakyat yang memamerkan souvenir dan kerajinan tangan lainnya. Ada pula pameran benda-benda pusaka di Pagelaran Keraton.


27 Februari
Grebeg Mulud
Lokasi : Keraton Kasunanan Surakarta & Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta

Puncak dari perayaan sekaten adalah keluarnya Gunungan dari Keraton menuju Masjid Agung. Setelah didoakan, gunungan kemudian dibagikan kepada masyarakat.


28 Februari – 1 Maret
Tatacara Adang Tahun Dal 1943 ISKS PB XIII
Lokasi : Gondorasan Keraton Kasunanan Surakarta

Event ini dilaksanakan 8 tahun sekali. Pada hari pelaksanaan SISKS PB XIII dan sentana dalem menanak nasi dengan menggunakan dandang Kyai Duda. Nasi berasal dari beras rajalele yang ditanam khusus untuk acara ini dan dipupuk organik dengan kotoran kerbau bule Kyai Slamet. Sedangkan beras dimasak dengan menggunakan air yang diambil dari 7 sumber mata air.


14 April
Mahesa Lawung
Lokasi : Keraton Kasunanan Surakarta & Hutan Krendhawahana

Ritual adat keraton kasunanan Surakarta untuk memohon keselamatan dan supaya terhindar dari segala macam mara bahaya. Peserta upacara berangkat dari Gondorasan ke Bangsal Sewayana Keraton Surakarta kemudian seterusnya menuju ke Hutan Krendhawahana di Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar (14 Km arah utara Kota Solo). Tempat ini dianggap sakral dan merupakan tempat semedi para leluhur Keraton Mataram. Dalam upacara juga disiapkan sesajen berupa sebuah kepala kerbau dengan ubarampenya.


28-30 April
Bengawan Travel Mart (BTM)
Lokasi : Solo dan kota-kota sekitarnya

Mempertemukan para sellers dan buyers pariwisata untuk perdagangan ataupun pengenalan terhadap potensi pariwisata


29 April
Solo Menari
Lokasi : Jalan Slamet Riyadi

Tarian seharian penuh di sepanjang jalan utama Kota Solo.


22-23 Mei
Festival Kuliner
Lokasi : Solo

Ekspose keanekaragaman makanan-minuman khas jawa, khususnya Solo. Namun ditampilkan juga makanan khas dari daerah lain di Indonesia serta dari manca negara.


14-16 Juni
Seni Kampung Solo
Lokasi : Kawasan Mangkunegaran

Menampilkan seniman-seniman kampung yang memiliki kemampuan dan bakat seni tinggi.


18-20 Juni
Kreatif Anak Sekolah Solo (KREASSO)
Lokasi : Kawasan Mangkunegaran

Ajang untuk menampilkan kreativitas anak-anak sekolah, pentas seni, unjuk prestasi siswa, dsb.


20-24 Juni
Solo Batik Fashion
Lokasi : Ngarsopuro

Peragaan busana adikarya batik dari desainer-desainer busana batik yang didukung oleh para produsen batik besar, menengah maupun kecil.


22-24 Juni
The Asia Pacific Ministerial Cenference on Housing and Urban Development (APMCHUD)
Lokasi : Hotel Sunan

Solo menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Menteri-menteri Perumahan dan Pembangunan Perkotaan se Asia Pacifik. Di sela-sela konferensi akan digelar performance art yang merupakan kekayaan budaya Kota Solo


23 Juni
Solo Batik Carnival
Lokasi : Jalan Slamet Riyadi

Karnaval yang mengambil tema batik. Untuk itu bahan yang digunakan para peserta semuanya juga batik. Tahun 2008 dan 2009 acara ini mampu menyedot perhatian ratusan ribu orang. SBC digelar untuk mengangkat citra batik dan Solo sebagai Kota Batik. Ratusan model akan memperagakan busana batik, merupakan kreasi mandiri peserta karnaval dalam tampilan dan desain yang makinatraktif, memikat dan berani.


2-3 Juli
Mangkunegaran Performing Art
Lokasi : Pura Mangkunegaran

Pentas seni budaya karya adiluhung Dinasty Mangkunegaran.


3 -5 Juli
Kemah Budaya dan Festival Dolanan Bocah
Lokasi : Alun-Alun Selatan Keraton Kasunanan Surakarta

Pembelajaran kemandirian pelajar sekoloah (SD,SMP,SMA) dalam nuansa budaya dan ekspose jenis – jenis permainan anak tradisional ,bauk yang masih dimainkan anak-anak maupun yang saat ini masih langka dijumpai.


8 Juli
Wiyosan Dalem Tingalan Jumeneng Dalem ISKS XIII
Lokasi : Keraton Kasunanan Surakarta

Upacara peringatan kenaikan tahta SISKS Paku Buwono XIII..Dalam acara ini dipergelarkan tarian sakral Bedaya ketawang, yang tidak semua penari bisa melakukan dan hanya dagelar dalam event yang sangat khusuis.Pada saat ini biasannya juga dilakukuan pemberian gelar kebangsawanan kepada orang-orang yang dianggap berjasa kepada keraton.


9-10 Juli
Keraton Art Festival
Lokasi : Keraton Kasunanan Surakarta

Ajang yang mempertunjukkan warisan budaya Keraton yang tangible (koleksi pusaka,peninggalan artefak,dll)serta yang intangible (upacara adat,peragaan busana Keraton,tarian,konser karawitan dsb)


16-18 Juli
Solo International Performing Art ( SIPA )
Lokasi : Solo

Sebuah pentas seni pertunjukkan yang mampertotonkan kekayaan pusaka non-bendawi (Intangible Heriltage),tak hanya dari solo,tetapi juga dari daerah –daerah lain di Indonesia serta dari manca negara.


23-24 Juli
Solo Keroncong Festival
Lokasi : Solo

Menampilkan para seniman keroncong nasional maupun lokal,dalam upaya melestarikan musik tradisi dan memupuk rasa nasionalisme.


23 Juli
Pinjung Kencong
Lokasi : Museum Radya Pustaka

Event untuk memperagakan,memperkenalkan dan melestarikan tata busana tradisional anak-anak.


29 Juli
Grand Final Pemilihan Putra-Putri Solo (PPS)
Lokasi : Ngarsopuro

uncak acara dari rangkaian acara proses pemilihan Putra-Putri Solo 2010.


6-8 Agustus
Solo International Ethnic Music (SIEM)
Lokasi : Solo

Tahun ini merupakan yang ke 3, setelah SIEM 2007 dan SIEM 2008.Sebuah panggung untuk menampilkan musik etnik dari solo,daerah-daerah lain di Indonesia serta dari mancananegara.


31 Agustus - 1 September
Malam Selikuran
Lokasi : Keraton Kasunanan Surakarta & Taman Sriwedari

Ritual tradisional Keraton Surakarta Hadiningrat dan masyarakat Solo yang dilakukan setiap malam ke-21 Bulan Ramandhan, untuk memperingati Nuzulul Quran ( saat Alquran, Kitab Suci Agama Islam, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Acara ditandai dengan kirab 1.000 tumpeng dari halaman Pagelaran Keraton menuju Taman Sriwedari, yang diikuti para prajurit keraton, serta barisan 21 lampu ting yang melambangkan peringatan ”Malem Selikuran”.


10-11 September
Grebeg Pasa
Lokasi : Keraton Kasunanan Surakarta & Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta

Upacara tradisional yang digelar berkaitan dengan Hari Raya Idul Fitri. Pada saat itu dilaksanakan prosesi membawa gunungan dari Keraton Surakarta ke Masjid Agung.


11-21 September
Pekan Syawalan
Lokasi : Taman Satwa Taru Jurug dan Taman Balekambang

Rangkaian peringatan syawalan yang dipusatkan di TSTJ dan Taman Balekambang


26-27 September
Festival Keraton Sedunia

Menampilkan keagungan budaya Kerajaan dari berbagai belahan dunia yang masih bertahan hingga saat ini.


9-10 Oktober
Bengawan Solo Gethek Festival
Lokasi : Langenharjo & Jurug

Kontes Gethek untuk mengenang dan melestarikan masa-masa Bengawan Solo sebagai alat transportasi utama.


24-26 Oktober
Pasar Seni Balekambang
Lokasi : Taman Balekambang

Menyuguhkan pentas seni, budaya maupun lukisan yang merupakan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Taman Balekambang.


18 November
Grebeg Besar
Lokasi : Keraton Kasunanan Surakarta & Masjid Agung

Ritual tahunan untuk memperingati Ibadah Haji (Idul Adha). Acara ini berlangsung didepan Masjid Agung Solo. Puncak perayaan ditandai saat Hajad Dalem Gunungan dibawa dalam prosesi dari Keraton Surakarta menuju Masjid Agung.


November
Kirab Apem Sewu
Lokasi : Kampung Sewu

Kirab yang digelar warga Kampung Sewu, Jebres, sebuah kawasan ditepian Bengawan Solo. Ada 1.000 apem yang dikirapkan (diarak) disekeliling kampung. Apem-apem itu diusung dalam berbagai wadah dan bentuk. Setelah didoakan, apem-apem tersebut kemudian dibagikan kepada warga karena dipercaya membawa berkah.


8 Desember
Kirab Malam 1 Sura
Lokasi : Keraton Kasunanan Surakarta & Pura Mangkunegaran

Perayaan Tahun Baru menurut Kalender Jawa. Malam satu suro jatuh mulai terbenam matahari pada hari terakhir bulan terakhir kalender Jawa (30/29 Besar) sampai terbitnya matahari pada hari pertama bulan pertama tahun berikutnya ( 1 Suro ).
- Di Mangkunegaran dilakukan Jamasan (pencucian) benda pusaka kemudian dikirabkan keliling Pura Mangkunegaran.
- Di Keraton Surakarta, ritual 1 Sura juga dilakukan kirab benda-benda pusaka mengelilingi Benteng Keraton pada dini hari tanggal 8 Desember. Yang menarik adalah ikut sertanya beberapa kebo bule ( kerbau albino) sebagai cucuk lampah ( yang mengawali romongan peserta kirab )


15 Desember
Wiyosan Jumenengan SP KGPAA Mangkoenagoro IX
Lokasi : Pura Mangkunegaran

Peringatan naik tahta Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati (KGPAA) Mangkoe Nagoro (MN) IX, Penguasa Pura Mangkunegaran Solo. Dalam acara ini digelar tarian sakral Bedoyo Anglir Mendung. Sehari sebelumnya dilakukan wilujengan selamatan.


18-19 Desember
Festival Sura
Lokasi : Keraton Kasunanan Surakarta & Pura Mangkunegaran

Menampilkan pertunjukan berbagai jenis kesenian dalam rangka memperingati Bulan Sura.
Read More......

Selasa, Juli 07, 2009

JUMENENGAN

Kraton Solo menyimpan keanggunan tersendiri di dalam budaya dan tradisinya. Salah satu tradisi yang sangat menarik adalah acara ritual untuk memperingati ulang tahun kenaikan takhta Sinuhun PB yang biasa disebut dengan Tingalan Jumenengan Dalem

Acara ini biasanya dimeriahkan dengan pergelaran tari yang dilaksanakan di Kraton Surakarta. Salah satu tarian sacral yang dihadirkan adalah BEDOYO KETAWANG yang tidak semua penari bisa melakukannya. Pada saat itu biasanya diikuti dengan tradisi pemberian gelar kehormatan oleh pihak Kraton bagi mereka yang dianggap berjasa melestarikan budaya Jawa. Gelar kehormatan tidak hanya dianugerahkan bagi kalangan internal dalam kraton, tetapi juga kepada warga di luar tembok kraton, bahkan banyak juga utusan keraton dari negara lain yang menerima anugerah gelar ini.


Prosesi penganugerahan gelar biasanya dilakukan di ruang Morokoto Keraton Kasunanan Surakarta dan Penerimaan gelar ini diberikan oleh KGPH Kusuma Yuda di Kantor Kusuma Wandawa.

Beberapa Gelar yang diberikan antara lain :
- Kanjeng Raden Tumenggung (KRT),
- Kanjeng Raden Ayu (KRAy),
- Kanjeng Mas Ayu (KMA),
- Kanjeng Raden Arya Adipati (KRAA)
- Dan gelar lainnya yang disesuaikan dengan kapasitas dan kelayakan dari penerima gelar tersebut.

Selain menyaksikan prosesi tingalan jumenengan Dalem SISKS Paku Buwono XIII, anda akan dapat juga menyaksikan Festival yang mempertunjukan warisan budaya kraton yang tangible ( koleksi pusaka, peninggalan artefak, dll ) serta yang intangible ( upacara adat, tarian, musik traditional, dll ).

Bila anda berminat menyaksikan prosesi tersebut diatas, ada bisa datang ke KOTA SOLO pada tanggal 18-20 Juli 2009 dalam rangkaian gelaran FESTIVAL KARATON SURAKARTA.


Read More......

Minggu, Juli 05, 2009

BATIK

Konon kata batik berasal dari istilah jawa Ngembat Titik, yang artinya mengisi titik. Namun dalam perkembangannya, batik justru telah dipatenkan di banyak negara, sementara Indonesia selaku pewaris kebudayaan tersebut hanya bisa gigit jari. Saat ini batik sudah dipatenkan di Malaysia, Singapura, dan juga Thailand.

Surakarta atau Surakarta Hadiningrat juga dikenal dengan nama Solo merupakan ibukota kerajaan dari Karaton Surakarta Hadiningrat. Surakarta merupakan pusat pemerintahan, agama dan kebudayaan. Sebagai pusat kebudayaan, Surakarta tidak dapat dilepaskan sebagai sumber seni dan ragam hias batiknya. Ragam hias batik umumnya bersifat simbolis yang erat hubungannya dengan filsafat Jawa-Hindu.

Dalam upaya untuk mengangkat kembali citra Batik di Kota Solo, Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah kota solo untuk semakin mengukuhkan diri sebagai kota batik, diantaranya :
- Mengembangkan Batik sebagai komoditi masyarakat, dengan menjadikan 2 Kawasan sebagai centra kerajinan Batik, yaitu : Batik Kauman dan Batik Laweyan.
- Menjadikan Kota Solo sebagai salah satu Kota Heritage dimana Batik merupakan salah satu warisan yang harus dilestarikan selain : Gamelan, Keris dan Wayang.
- Penyelenggaran event yang bertemakan batik, seperti : Solo Batik Carnival yang merupakan agenda tahunan dan Srawung Batik untuk lebih mendekatkan Batik dengan Masyarakat.

SEJARAH BATIK

Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.

Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia I selesai atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjuangan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedagan Muslim melawan perekonomian Belanda.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.

Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

SENI BATIK

Seni batik pada dasarnya merupakan seni lukis yang mempunyai bahan dasar antara lain : kain, canthing dan malam (sebangsa cairan lilin). Canthing biasanya berbentuk seperti mangkuk kecil dengan tangki (pegangan) terbuat dari kayu atau bambu dan bermoncong satu atau lebih. Canthing yang bermoncong satu untuk membuat garis, titik atau cerek, sedangkan canthing yang bermoncong beberapa (dapat sampai tujuh) dipakai untuk membuat hiasan berupa kumpulan titik-titik.

Masih bertahannya seni batik sampai jaman moderen ini, tidak dapat dilepaskan adanya kebanggaan, adat tradisi, sifat religius dari ragam hias batik, serta usaha untuk melestarikan pemakai batik tradisional dan tata warna tradisional. Dilihat dari proses pembuatannya ada batik tulis dan batik cap. Dengan semakin berkembangnya motif dan ragam hias batik cap, mengakibatkan batik tulis tradisional mengalami kemunduran. Hal ini dapat dimengerti sebab batik tulis secara ekonomis harga relatif mahal dan jumlah pengrajin batik tulis semakin berkurang.

Sekarang ini ada beberapa daerah yang masih dapat dikatakan sebagai daerah pembatikan tradisional. Daerah yang dimaksud antara lain: Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, Indramayu, Garut, Pekalongan, Lasem, Madura, Jambi, Sumatera Barat, Bali dan lain-lain.


BATIK SOLO & YOGYAKARTA

Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluhur”.

Sedangkan Asal-usul pembatikan didaerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan rajanya Panembahan Senopati. Daerah pembatikan pertama ialah didesa Plered. Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu. Dari sini pembatikan meluas pada trap pertama pada keluarga kraton lainnya yaitu istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik. Oleh karena kerajaan ini mendapat kunjungan dari rakyat dan rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga kraton dan ditiru oleh rakyat dan akhirnya meluaslah pembatikan keluar dari tembok kraton.

Mulai abad 18, Sebagai akibat dari peperangan baik antara keluarga raja-raja maupun antara penjajahan Belanda, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap didaerah-daerah baru antara lain ke Banyumas, Pekalongan, dan kedaerah Timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainya. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan seluruh pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan berkembang menurut alam dan daerah baru itu.


JENIS & MOTIF BATIK

Pada dasarnya, berdasarkan proses pembuatannya batik bisa diklasifikasikan sebagai berikut :

Batik Tulis
Merupakan pola tradisional dengan menggunakan canting berisi malam atau lilin cair. Canting adalah sebentuk cawan tembaga mungil dengan pipa di ujungnya dalam ukuran kecil. Dengan canting inilah para seniman batik melukiskan lilin cair diatas selembar kain, biasanya kain mori (putih). Selanjutnya kain yang sudah dilukis tersebut dilakukan pewarnaan. Pewarna yang digunakan pun pewarna alam, seperti pohon mengkudu, soga, nila, buah jelawe, kayu tingi dan banyak lagi.

Batik Cap
Pola ini muncul pada kisaran tahun 1920, seiring dengan masuknya pewarna tekstil sintetis buatan China. Pola batik jenis ini, dibuat dengan canting cap, dimana canting yang digunakan sudah berbentuk pola, sehingga mempercepat proses.

Batik Printing
Batik Printing, Batik inilah yang disinyali banyak mematikan para pengrajin batik yang masih bertahan di berbagai penjuru Indonesia. Disebut printing karena batik jenis ini dicetak dengan mesin tekstil sehingga secara kuantitas produktivitas atau penyediaan jumlah hasil batikan menjadi berlipat ganda.

Batik Sablon
Batik sablon, yaitu batik yang motifnya dicetak dengan klise / hand print)

Batik Painting
Batik painting yaitu batik yang dibuat tanpa pola, tetapi langsung meramu warna di atas kain).

Motif batik di Indonesia yang cukup tersebar, diyakini memiliki kandungan filosofis, sesuai dengan tempat diproduksinya. Bahkan, di beberapa tempat ada cara membatik yang harus didahului dengan ritual tertentu, seperti membaca mantera atau berpuasa terlebih dulu.

Batik Jawa sendiri memiliki keunikan pada isen-isen atau isi yang berupa titik, garis halus, atau ornamen lain dalam bentuk ragam hias. Desain batik jawa memiliki dua aturan dasar. Pertama berdasarkan konstruksi geometri berupa kotak-kotak, garis diagonal, atau lingkaran dengan segala pengembangan stilasi. Kedua desain nongeometri seperti tangkai, bunga, daun, kuncup (flora), dan bentuk binatang (fauna).

Dalam batik jawa, masih bisa dibedakan lagi menjadi batik yang dipengaruhi budaya kraton, dan batik yang hidup diluar pengaruh kraton.

Batik Yogyakarta, memiliki tidak kurang dari 400-an motif. Ini menyesuaikan dengan banyak upacara adat dan keagamaan. Motif batik pola truntum, grompol, nagasari, gringging, ceplok, mangkara, sidoasih, sidomukti, semen rama, juga pola nitik cakar ayam yang menyimbolkan kesuburan bagi orang yang mengarungi hidup baru, banyak digunakan untuk upacara perkawinan.

Sementara motif Parang Barong, hanya dikenakan Sultan atau Raja dan seluruh leluhurnya, dikerjakan dengan sangat rumit dan ekstra hati-hati. Setiap garis yang membentuk pola ini harus ditulis dengan satu tarikan nafas agar tidak terputus, sehingga dibutuhkan pemusatan atau konsentrasi lahir dan batin. Motif ini mngandung larangan untuk dipakai orang lain, diluar keluarga Sultan. Karenanya, batik ini dinilai sangat sakral.

Pada dasarnya, batik Yogyakarta dan Solo, dikenal dengan ragam motif. Ketika feodalisme masih diterapkan, ada hierarki tertentu sehingga tak setiap motif batik bisa dipakai sembarang orang. Saat ini yang masih tersisa dari batik kraton baik Solo maupun Yogya adalah penggunaan warna putih, coklat, hitam, dan biru. Kendati demikian, sentra-setra batik di luar lingkaran kraton, misalnya pesisiran, dengan dinamika yang tak kalah kencang, membangun sendiri nilai-nilai budaya komunitasnya yang egaliter.

Maka, kini ketika batik makin mendapat pengakuan dan diburu banyak kolektor, batik pesisiran juga tidak kalah memancar auranya, dibanding batik-batik produk kraton. Apalagi dengan warna-warni yang lebih kaya dan lebih funky, seperti merah, kuning, hijau, dan lain-lain.
Read More......